Dharma Wacana ” Tri Hita Karana “


“ Upaya Umat Hindu Dalam Menjaga Keseimbangan Alam Semesta

Melalui Implementasi Tri Hita Karana ”

Oleh : Eka Sulastri

Om Swastyastu,

Pertama-tama, marilah kita haturkan puja dan puji astuti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas Asungkertha Waranugraha-Nya yang telah melimpahkan segala anugrah kepada kita semua. Sehingga pada hari ini kita dapat berkumpul bersama untuk mengikuti Temu Karya Ilmiah Tingkat Nasional di STAH Tampung Penyang, Palangkaraya.

Umat se-dharma yang berbahagia,

Menjadi bagian dari masyarakat, umat Hindu seyogyanya memiliki andil dalam memecahkan segala permasalahan yang timbul akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Keberadaannya selain memberikan dampak positif (misal: perkembangan komunikasi yang semakin pesat) ternyata hal tersebut juga memberikan dampak negatif yaitu menurunnya kesadaran manusia akan pentingnya menjaga keseimbangan alam sebagai sumber kehidupan. Saat ini, sering kita saksikan kejadian dan perilaku destruktif dalam skala lokal maupun global, seperti; bentrokan antar warga (Balinuraga dan Sumbawa) dan eksploitasi alam yang mempengaruhi stabilitas lingkungan.

Hindu adalah Sanatana Dharma yang mengajarkan umat manusia melalui konsep-konsep yang memiliki nilai universal dan relevan dengan permasalahan saat ini, salah satunya adalah Tri Hita Karana yaitu hubungan manusia dengan Tuhan, antar manusia dan alam lingkungan.  Tri Hita Karana tidak cukup dipelajari secara verbalis tetapi nilai-nilai tersebut harus menginternalisasi di dalam diri, yang diimplementasikan dalam perilaku sehari-hari. Dalam penerapannya, disesuaikan dengan kearifan lokal yang menjadi ciri khas masing-masing daerah, misalnya; penerapan Tri Hita Karana oleh umat Hindu etnis Bali berbeda dengan umat Hindu etnis Kaharingan maupun umat Hindu etnis Jawa. Berkaitan dengan hal tersebut, pada kesempatan hari ini saya akan menyampaikan pesan dharma yaitu: “Upaya Umat Hindu Dalam Menjaga Keseimbangan Alam Semesta Melalui Implementasi Tri Hita Karana”. Adapun yang akan saya sampaikan adalah:

  1. Apa yang dimaksud dengan konsep Tri Hita Karana?
  2. Bagaimana menerapkan konsep Tri Hita Karana dalam kehidupan sehari-hari?

Umat se-dharma yang penuh karunia,

1.      Apa yang dimaksud dengan konsep Tri Hita Karana?

Eksistensi Tri Hita Karana sesungguhnya telah ada sejak jaman pemerintahan Majapahit dan digunakan oleh Patih Gajahmada sebagai salah satu rahasia sukses dalam mempersatukan nusantara, yang dikenal dengan Tri Hita Wacana. Kemudian, pada tanggal 11 November 1966, muncullah istilah Tri Hita Karana melalui Konferensi daerah I Badan Perjuangan Umat Hindu Bali (Perguruan Dwijendra). Konferensi ini diadakan atas dasar kesadaran umat Hindu akan dharmanya dalam upaya mewujudkan kesejahteraan yang berdasarkan Pancasila. Tri Hita Karana secara etimologi, berasal dari kata “tri” yang artinya tiga, “hita” adalah kebahagian, dan “karana” artinya sebab. Jadi, Tri Hita Karana adalah tiga unsur penyebab kebahagiaan dalam mewujudkan kehidupan harmonis. Adapun bagiannya meliputi:

  1. Parahyangan: keharmonisan manusia dengan Tuhan
  2. Pawongan: keharmonisan manusia dengan manusia
  3. Palemahan: keharmonisan dengan alam lingkungan

Ketiga sumber tersebut terinspirasi dari Bhagawadgita (III.10), yaitu:

Sahayajnah prajah sristwa,

Pura waca prajahpatih

Anena prasawisya dhiwam,

 Esa wo’stiwista kamadhuk

Artinya:

Pada jaman dahulu Prajapati menciptakan manusia dengan yajna dan bersabda: dengan ini engkau akan berkembang dan menjadi kamadhuk dari keinginanmu.

2.      Bagaimana umat Hindu menerapkan bagian-bagian Tri Hita Karana dalam kehidupan sehari-hari?

a) Parahyangan (manusia dengan Tuhan)

Tuhan merupakan sumber kebahagiaan utama bagi manusia karena kebahagiaan yang sesungguhnya adalah ketika kesadaran sang atman mampu setara dengan Brahman, sehingga muncul konsep parahyangan yang diaktualisasikan dalam bentuk tempat suci sebagai sarana pemujaan kepada Beliau.

Sebagai masyarakat agraris, umat Hindu etnis Jawa mempercayai kemahakuasaan Dewi Sri sebagai Ista Dewata pemberi kemakmuran. Kepercayaan tersebut mereka wujudkan dalam letak tata ruang sebuah rumah yang memuliakan senthong tengah sebagai tempat pemujaan terhadap Dewi Sri.  Selain itu, senthong tengah juga digunakan untuk memuja leluhur yang disimbolkan dalam bentuk dua boneka (loro blonyo) sebagai lambang purusa dan pradana. Eksistensinya sama dengan pemaknaan sanggah, jika di Bali Ista Dewata dan leluhur disthanakan pada pelinggih maka di Jawa Ista Dewata dan leluhur disthanakan di senthong tengah.  Kegiatan spiritual yang dilakukan oleh umat Hindu etnis Jawa dalam memuliakan senthong tengah, dengan melakukan meditasi untuk memperkuat potensi batin mereka.  Sementara itu, umat juga menghaturkan sesaji kepada Ista Dewata dan para leluhur sebagai ungkapan terima kasih atas anugrah yang diberikan.

b) Pawongan (manusia dengan manusia)

Berlandaskan ajaran Hitopadesa Upanisad “vaisudhaiva katumbakam” yang artinya kita semua bersaudara. Kesadaran inilah yang mendorong umat manusia untuk senantiasa mengembangkan kerukunan agar terjalin rasa kekeluargaan antar sesama.

Sebagaimana yang dilakukan oleh umat Hindu di Desa Jatisari Kab. Blitar, mengimplementasikan pawongan melalui kegiatan sarasehan yang dikenal dengan Tradisi Kliwonan (menurut kepercayaan umat Hindu etnis Jawa yang mayoritas penganut Siwaistik, malam kliwon adalah malam melinggihnya Dewa Siwa). Setiap lima hari sekali, umat Hindu (khusus laki-laki) berkumpul di pura untuk melaksanakan persembahyangan bersama serta pembinaan umat terhadap ajaran Agama Hindu oleh pemangku setempat. Tradisi yang sudah dilaksanakan sejak tahun 1994 merupakan salah satu cara umat untuk menjaga keberadaan Hindu di Blitar, karena pada waktu itu banyak upaya yang mencoba menghilangkan identitas ke-Hinduan sehingga melalui tradisi inilah umat berusaha untuk mempertahankannya. Selain itu, Tradisi Kliwonan juga menjadi wahana dalam membina kebersamaan, sehingga menginspirasi kaum perempuan untuk melaksanakan kegiatan yang sama, seperti: kemisan, legian, dan mingguan sebagai sebuah rutinitas guna mempererat rasa kebersamaan.

c) Palemahan (manusia dengan alam)

Alam adalah manifestasi dari badan Tuhan yang secara langsung menopang kehidupan manusia dan mahkluk lainnya. Hubungan manusia dengan alam bersifat kekal abadi, karena mereka selalu hidup di alam semesta ini.

Di dalam Lontar Purana Bali dijelaskan mengenai keharmonisan manusia dengan alam yang disebut dengan Sad Kertih diantaranya ada samudra kertih. Samudra Kertih yaitu upaya menjaga kelestarian dan kesucian samudra sebagai sumber kehidupan manusia. Secara sekala (fisik) upaya pelestarian laut dapat dilakukan, misalnya; tidak mencemari lautan dan membudidayakan terumbu karang. Sedangkan secara niskala (metafisika), seperti Upacara Petik Laut Sumbermanjing, di Kec. Sumbermanjing Wetan Kab. Malang, yang diadakan setiap tanggal 27 September di Pantai Sendang Biru. Upacara ini dilaksanakan secara turun-temurun oleh penduduk di pesisir pantai yang notabenya bermata pencaharian sebagai nelayan. Upacara ini dilaksanakan dengan melarung sesaji sebagai ungkapan terima kasih kepada penguasa lautan (Sang Hyang Baruna) atas hasil yang diberikan selama ini.

Bapak-Ibu umat se-dharma dan rekan-rekan yang berbahagia, dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa keharmonisan sebagai penyebab kebahagiaan dapat terwujud apabila kita dapat berinteraksi dengan ketiga unsur Tri Hita Karana secara seimbang, tentunya berdasarkan pada lingkungan, waktu, dan kondisi (desa, kala, patra). Oleh karena itu, melalui implementasi Tri Hita Karana mari kita bersama-sama menciptakan keseimbangan dan keharmonisan dengan ketiga unsurnya, diawali dari hal yang mudah dan bisa dilakukan.

Demikian yang dapat saya sampaikan pada kesempatan hari ini, semoga apa yang saya sampaikan bisa memberikan manfaat bagi kita semua.

Om Santih, Santih, Santih Om

Catur Purusa Artha : Tujuan Hidup Manusia


Catur purusa artha terdiri dari tiga kata yaitu catur yang berarti empat, purusa yang berarti hidup dan artha yang berarti tujuan. Jadi Catur purusa artha artinya empat tujuan hidup sebagai manusia. Tujuan hidup menurut ajaran agama hindu dinyatakan dalam Brahma Purana 228,45 sebagai berikut :

“Dharma, artha, kama, moksana sarira sadhanam”.

Badan yang disebut sarira ini hanya boleh digunakan sebagai alat untuk mencapai Dharma, Artha, Kama, dan Moksa.

Bagian-bagian catur purusa artha :

1. Dharma

Dharma merupakan kebenaran absolut yang mengarahkan manusia untuk berbudi pekerti luhur sesuai dengan dasar agama yang menjadi hidupnya. Dharma itulah yang mengatur dan menjamin kebenaran hidup manusia. Keutamaan dharma merupakan sumber datangnya kebahagiaan, memberikan keteguhan budi dan menjadi dasar segala tingkah laku manusia.

2. Artha

Artha dalam bahasa sanskerta diartikan tujuan. Segala sesuatu yang menjadi alat untuk mencapai tujua juga disebut artha. Mendapatkan dan memiliki harta mutlak adanya, tetapi yang perlu diingat agar jangan sampai diperbudak oleh nafsu keserakahan yang berakibat mengaburnya wiweka ( pertimbangan rasional) sehingga tidak mampu membedakan mana yang benar dan salah. Artha perlu diamalkan (Dana Punia) bagi kemanusiaan seperti fakir miskin, orang cacat, yatim piatu dan sebagainya.

3. Kama

Kama adalah keinginan untuk memperoleh kenikmatan (wisaya). Kama berfungsi untuk menunjang hidup yang bersifat tidak kekal. Kama dinyatakan sebagai salah satu tujuan hidup adalah untuk mengubah wisaya kama menuju sriya kama, artinya dari ingin mengumbar hawa nafsu atau wisaya menuju pada keinginan mencapai keindahan rohani atau sriya.

4. Moksa

Moksa adalah kelepasan atau kebebasan yaitu menyatunya atman dengan Brahman. Sebagai tujuan yang tertinggi.

Source : Swastikarana

Tri Mala


Tri mala merupakan tiga kotoran yang melekat pada jiwa manusia akibat pengaruh buruk dari nafsu yang tak terkendalikan dan sangat bertentangan dengan kesusilaan. Tri mala meliputi :

1. Mithia Hrdaya : selalu berperasaan dan berpikiran buruk, buruk sangka kepada orang lain.

2. Mithia Wacana : berkata sombong, angkuh, tidak menepati janji.

3. Mithia Laksana : berbuat kurang ajar, tidak sopan, hingga merugikan orang lain.

Selain tiga musuh yang tersebut diatas ada tiga musuh yang menghambat perkembangan manusia dalam berjuang melaksanakan Tri Kaya Parisudha, yang dikenal dengan nama Tri Mala Paksa. Tri Mala Paksa meliputi :

1. Kasmala : perbuatan yang hina dan kotor.

2. Mada : perkataan, pembicaraan dusta dan kotor.

3. Moha : pikiran perasaan curang dan angkuh.

 

Source : Swastikarana

 

Tri Sarira dalam Agama Hindu


calligraphy_ganeshHalo sobat katahindu, kali ini penulis ungin berbagi mengenai apa itu Tri Sarira,, semoga bermanfaat.. :)

Tri Sarira terdiri dari dua kata, yaitu “Tri” yang artinya tiga dan “Sarira” yang artinya badan. Tri Sarira diartikan sebagai tiga lapisan badan/tubuh manusia. Adapun bagian-bagian Tri Sarira meliputi:

1. Sthula Sarira adalah lapisan badan yang paling luar atau disebut juga badan kasar, badan fisik atau badan wadah. Sthula Sarira terbentuk dari unsur Panca Maha Bhuta, yaitu:

a) Pertiwi adalah zat yang padat. Wujud dari pertiwi cenderung tetap (padat), zat ini juga menentukan bentuk-bentuk benda di alam semesta. Contohnya : tulang, daging dan otot.

b) Apah adalah zat yang cair. Zat ini lebih halus daripada Pertiwi dan dapat berubah-ubah bentuknya. Contohnya: darah, dan lender.

c) Teja adalah zat segala zat panas. Zat ini lebih halus daripada Apah karena hanya dapat dilihat dan dirasakan. Contohnya: suhu badan.

d) Bayu adalah zat udara. Contohnya: nafas.

e) Akasa adalah zat eter atau hampa. Contohnya: rongga tubuh

 

2. Suksma Sarira atau badan halus adalah lapisan badan yang tidak dapat dilihat dan diraba, yaitu alam pikiran manusia. Alam pikiran letaknya jauh di dalam badan sehingga disebut dengan badan halus. Badan Halus dalam Agama Hindu disebut Suksma Sarira. Suksma Sarira dalam Bahasa Sansekerta disebut citta. Ingatan atau citta adalah pengalaman yang dibuat tubuh, dipikirkan, dilihat dan dirasakan selama manusia hidup di dunia ini.Citta adalah salah satu unsur yang membentuk watak atau budi seseorang. Pada citta ini terdapat unsur Dasendria, yaitu lima indriya pengenal yang disebut Panca Budhindriya yang terdiri dari:

a) Caksuindriya adalah indria pengelihatan yaitu terletak pada mata

b) Srotendriya adalah indria pendengar yaitu terletak pada telinga

c) Ghranendriya adalah indria penciuman yaitu terletak pada hidung

d) Twakindria adalah indria pengenal rasa sentuhan yaitu terletak pada kulit

e) Jihwendria adalah indria pengecap yaitu terletak pada lidah

dan lima indriya pekerja atau penggerak yang disebut Panca Karmendriya, yang terdiri dari:

a) Panindriya adalah indria penggerak pada tangan

b) Padendria adalah indria penggerak pada kaki

c) Garbhendriya adalah indria penggerak pada perut

d) Upastendriya adalah indria penggerak pada kemaluan laki-laki. Bhagendriya adalah indria penggerak pada kemaluan perempuan.

e) Pajwindriya adalah indria penggerak pada pantat atau dubur.

 

3. Antakarana Sarira adalah lapisan badan yang paling halus yaitu Atman. Antakarana Sarira disebut juga badan penyebab. Atman inilah yang menjiwai manusia sehingga bisa hidup dan beraktivitas.

source : radhalaksmi.bc

 

Dharma Wacana Dana Punia


Oleh : Nico Wardana

Singgih pandita yang dimuliakan

Para pinandhita baik lanang maupun istri yang disucikan

Para sesepuh pini sepuh yang saya hormati

Serta umat sedharma yang berbahagia

Sebelumnya saya sampaikan astungkara panganjali “ Om Swastyastu “

“Om awighnamastu nama sidham,

Om anobadrah kratavo yantu visvatah”

Semoga tiada halangan yang melintang, semoga pikiran yang baik selalu datang dari segala penjuru.

Puji syukur marilah kita panjatkan kehadapan Sang Hyang Widi Wasa, karena atas asungkerta waranugrahanya kita masih diberi kesempatan berkumpul pada malam hari ini dalam keadaan sehat, tanpa kekurangan suatu apapun. Guna mengikuti persembahyangan purnama.

Umat sedharma yang penuh karunia

Sekitar tiga minggu yang lalu, tepatnya tanggal 7 April kita melaksanakan Dharma Santi Nasional yang bertema “Dengan Persaudaraan Kita Bangun Kebersamaan”. lalu yang menjadi pertanyaan apa yang harus kita lakukan untuk mempererat tali persaudaraan sehingga kebersaam itu dapat tercapai. Salah satu ajaran agama Hindu yang mendukung tema tersebut adalah dana punia. Dana berarti pemberian sedangkan punia berarti baik,suci. Sehingga dana punia mempunyai arti pemberian yang baik dan suci.

Bila kita menyadari saat kita memberi jari tangan kita mencakup membentuk satu kesatuan. Jari yang memiliki karakteristik yang berbeda. Hal ini dapat kita artikan bahwa bila kita melakukan dana punia maka dapat mendorong terjadinya persatuan dan kesatuan antar sesama, mempererat tali persaudaraan. Sesuai dengan ajaran kita yang menyatakan bahwa kita semua adalah bersaudara “ vasudaiva kutumbhakam “. Hal ini menjadi penting kita lakukan di zaman sekarang ini ( kaliyuga ), dimana toleransi antar sesama begitu minim, lebih menekankan kepada ego masing-masing. Misalnya saat macet, pada umumnya orang-orang tidak mau mengalah, bahkan trotoarpun yang merupakan jalan untuk pejalan kaki bisa dijadikan jalan, yang penting cepat sampai.

Oleh karena itu pada kesempatan kali ini saya tertarik membawakan dharma wacana dengan judul “Memprioritaskan dana punia guna memperkuat rasa kebersamaan dan persaudaraan”. Adapun yang ingin saya sampaikan, yang pertama mengapa dana punia menjadi prioritas di zaman sekarang ini?. Yang kedua bagaimana berdana punia yang baik dan tepat?.

Umat sedharma yang berbahagia

Mengapa memprioritaskan dana punia menjadi penting kita lakukan di zaman sekarang ini, di dalam Parasaradharmasastra I.23 disebutkan :

“ tapah param kerta yuge

tretayam jnana mucyate

dvapare yajna waewahur

danamekam kalau yuge “

yang berarti :

Pelaksanaan penebusan dosa yang ketat (tapa) merupakan kebajikan pada masa Satyayuga, pengetahuan tentang sang Diri (jnana) pada Tretayuga, pelaksanaan upacara kurban keagamaan (yajna) pada masa Dvaparayuga, dan melaksanakan amal sedekah (danam) pada masa Kaliyuga.

Dari sloka diatas dapat kita simpulkan bahwa untuk sekarang ini kebajikan yang perlu kita lakukan adalah dana punia. Swami wiwekananda membadi dana punia menjadi tiga macam yaitu dharma dana, vidya dana dan artha dana. Pemberian tersebut dapat berupa nasehat/wejangan atau petunjuk hidup, yang mampu mengubah kehidupan seseorang menjadi lebih baik (Dharmadana), contohnya sebagai orang tua mengarahkan anaknya untuk teguh memegang dharma dalam segala tindakannya. berupa pendidikan / pengetahuan (Vidyadana) seperti seorang guru yang memberikan pengetahuan yang dimiliki kepada murid-muridnya dan berupa harta benda (Arthadana) yang bertujuan untuk menolong atau menyelamatkan seseorang atau masyarakat misalnya memberi sedikit uang kepada peminta-minta.

Umat sedharma yang berbahagia

Pemberian merupakan suatu hal yang mulia, mengapa demikian? didalam mahabharata ada seorang pemberi yang agung yaitu radheya putra kunti dan surya. Saat radheya selesai memuja matahari disiang hari datanglah Indra yang menyamar sebagai seorang brahmana, Beliau berkata mohon berikanlah aku sedekah. Radheya menghormati brahmana dengan sujud dikakinya dan mempersilahkan duduk. Brahmana itu meminta kavaca dan kundala. Radheya menawarkan yang lainnya. Singkat cerita radhay tahu bahwa itu indra dan radheya memotong kavacanya dan melepas kundalanya serta meletakan dikaki brahmana (indra) saat itulah bunga-bunga ditaburkan dari langit. Dia dikenal sebagai karna karena telah memberi kundalannya dan vaikartana karena telah memotong kavacanya tanpa rasa sakit. Hal ini memberi makna bahwa pemberian itu merupakan hal yang mulia, terlebih memberikan sesuatu yang sangat kita sayangi, kita butuhkan.

Umat sedharma yang penuh karunia

Lalu bagaimana berdana punia yang baik dan tepat? Bila kita kaitkan dengan tiga guna yang melekat pada manusia, dana punia memiliki tiga kualitas, satvika, rajasika, dan tamasika. Hal ini dipertegas dalam kitab Bhagawadgita XVII.20,21,22, sebagai berikut :

Bhagawadgita XVII.20 dikatakan bahwa dana punia yang bersifat satvika adalah dana punia yang didasari rasa tulus ikhlas, kepada orang yang berhak menerima , dengan cara yang baik, sesuai dengan kemampuan, tidak berlebihan (untuk pamer) dan uang yang diberikan didapat dengan jalan dharma. Contoh : memberikan uang kepada pengemis yang benar – benar membutuhkan dengan tulus ikhlas.

Bhagawadgita XVII.21 menyebutkan juga Rajasika merupakan kualitas kedua dari dana punia. Dana punia yang memiliki sifat rajasika mempunyai ciri-ciri : memberikan dana punia untuk memperoleh keuntungan di kemudian hari / mengharapkan hasilnya, hanya untuk pamer, ada perasaan kesal saat memberikannya. Contoh : memberikan dana punia ke pura paling besar, supaya orang – orang yang lainnya kagum.

Bhagawadgita XVII.22 menyebutkan, kualitas yang ke tiga dari dana punia yaitu kualitas tamasika, yang mempunyai ciri – ciri sebagai berikut : tidak mempunyai landasan sastranya (tanpa keyakinan / tidak mengetahui aturanya / asal – asalan ), uang yang didapat dari perbuatan adharma, tanpa adanya rasa hormat atau dengan penghinaan. Contoh : memberikan sedekah kepada pengemis dengan melemparnya ketanah, dan sangat kecil tidak sebanding dengan penghasilannya.

Dari uraian ini berdana punia yang baik dan tepat adalah yang bersifat satvika, dilakukan dengan tulus ikhlas dan diberikan kepada orang yang tepat. Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa dana punia penting kita galakan dizaman sekarang ini, dimana ego lebih dominan dibanding toleransi. Dana punia tidak harus berwujud materi (arthadana) bisa juga dengan nasehat (dharmadana) dan juga pendidikan (vidyadana). Yang terpenting dilakukan dengan tulus ikhlas sehingga dapat memupuk tali persaudaraan antar sesama dan kebersamaan dapat tercapai.

Oleh karena itu kita sebagai umat hindu yang mempunyai dan mengerti tentang ajaran ini, marilah meningkatkan rasa persaudaraan kita dengan melakukan dana punia. Dengan harapan dapat meningkatkan rasa kebersamaan dan toleransi antar sesama. Demikianlah sedikit pengetahuan yang dapat saya sampaikan, semoga bermanfaat bagi kita semua. Akhir kata saya tutup dengan paramasantih ” Om Santih Santih Santih Om”.

Seni Tari dan Jenisnya Dalam Hindu


    Seni tari tentunya hal yang tidak asing lagi bagi kita, sekarang malah banyak sekali macam-macam tarian baik yang tradisional maupun yang modern. Seni tari merupakan suatu karya seni yang ditampilkan melalui media gerak sehingga menimbulkan daya pesona. Mengingat dalam perkembangannya sekarang, begitu banyak macam tari maka umat Hindu mengelompokan seni tari menjadi tiga kategori, yaitu :

1.       Seni Tari yang Termasuk Wali

        Seni tari yang termasuk Wali sifatnya sakral. Suatu tarian yang mengandung simbolis religious dan biasanya dilakukan bebarengan dengan upacara keagamaan di pura. Tari Wali tidak mengandung lakon.

tari pendet    Biasanya tari sakral ini ditarikan oleh :

- Penari yang masih gadis

- Bisa ditarikan oleh orang yang sudah berumah tangga, terutama bagi wanita yang sudah       mengalami menopose.

- Penari sering membawa alat-alat upacara seperti canang sari, pasepan, sampian dan lain-lain.

- Gerak tari sakral sederhana, mengikuti gerak alam seperti tumbuh-tumbuhan, peredaran matahari dan sebagainya.

- Ada suasana mistik, magis, religius.

- Biasanya ditarikan secara kolektif. Isinya menggugah emosional keagamaan.

Contoh tari yang termasuk Wali : tari rejang, tari pendet, tari baris tumbak, tari sanghyang, tari bedaya semang, tari sanyang, tari tortor, tari gantar.

 2.       Seni Tari yang Termasuk Bebali

         Tari Bebali termasuk sebagai pengiring upacara dan mengandung lakon. Contohnya : Tari Wayang Lemah, Tari Gambuh, dan Tari Topeng.

 3.       Seni Tari yang Termasuk Balih-balihan

           Seni tari yang termasuk Balih-balihan adalah seni tari yang diciptakan berdasarkan tuntunan budi luhur dan berfungsi untuk hiburan. Contoh : tari cak, tari janger, tari legong keraton, tari kebyar duduk, tari manuk rawa, tari puspa wresti, tari puspanjali, dan masih banyak lagi termasuk seni drama dan tari atau Sendratari.

Makna Sloka Kakawin Ramayana I.3


Halo sobat katahindu, kalau kemaren penulis posting mengenai Makna Sloka Kakawin Ramayana III.63, sekarang penulis akan membahas Makna Sloka Kakawin Ramayana I.3

Kakawin Ramayana I.3

“ Gunamanta Sang Dasaratha
   Wruh Sira Ring Weda
   Bhakti ring Dewa Tarmalupeng Pitra Puja
   Masih Ta Sireng Swagotra kabeh “

Artinya :
Sangat bijaksanalah beliau Sang Dasaratha
   Beliau tahu tentang pengetahuan suci Weda
   Bhakti kepada para Dewa, dan tidak pernah lupa pemujaan terhadap leluhur
   Demikian pula kasih sayang sesama mahluk dan keluarganya.

       Seorang pemimpin mempunyai peranan penting dalam suatu bangsa dan negara. Ibarat sebuah pesawat pemimpin adalah pilot. Pilot  membawa para penumpang ke tempat tujuan, demikian pula seorang pemimpin membawa bangsa dan negaranya untuk mencapai tujuan yang dirumuskan bersama. Oleh karena itu hendaknya seorang pemimpin berlaku bijaksana dalam menjalankan tugas dan kewajibannya, termasuk menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi. Dengan kebijaksanaan inilah pemimpin mampu menjadi sosok yang disegani masyarakat. Salah satu modal dasar yang dibutuhkan agar dapat berlaku bijaksana adalah pengetahuan suci Veda. Dengan mengetahui pengetahuan suci Veda, seseorang akan mendapat arahan untuk menjalani hidup ini dengan sebaik mungkin, dengan berlandaskan dharma. Demikian pula seorang pemimpin, Veda juga mengajarkan ilmu tentang kepemimpinan yaitu Nitisastra. Ilmu pengetahuan Veda menjadi modal awal untuk membentuk pribadi yang bijaksana, karena kebijaksanaan seorang pemimpin dapat diukur dari sejauh mana pengetahuan tentang dharma yang mereka pahami dan diterapkan dalam kehidupan sehingga memberikan manfaat bagi rakyatnya.

         Menjadi pemimpin yang baik dan bijaksana tentunya tidak hanya timbul dari diri sendiri, tetapi ada peran serta orang-orang yang lebih dahulu dari kita (leluhur) dan juga Tuhan YME. Maka penghormatan kepada leluhur dan Tuhan YME wajib dilaksanakan sebagai wujud terimakasih dan bhakti kepada beliau. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan Deva Yajna yaitu persembahan yang suci dan tulus ikhlas kepada para Deva dan juga Pitra Yajna yaitu persembahan suci dan tulus ikhlas kepada para leluhur.

          Selain menghormati dan berbhakti kepada Deva dan leluhur, pemimpin juga harus menghormati dan menyayangi masyarakat atau rakyatnya serta keluarganya. Menyayangi masyarakat dapat dilakukan dengan memberikan pelayanan yang baik, mewujudkan aspirasi masyarakat yang sifatnya membangun dan juga memberikan keamanan serta kenyamanan dalam bermasyarakat. Didalam Hindu kita mengenal Tat Tvam Asi yang berarti aku adalah kamu, kamu adalah aku, kita sebenarnya adalah sama. Menyayangi sesama makluk didunia ini menjadi salah satu sifat yang patut dimiliki oleh seorang pemimpin. Terutama pemimpin Hindu yang mengerti konsep Tat Tvam Asi ini.

          Seorang pemimpin hendaknya melakukan Dharma Negara dan Dharma Agama secara berdampingan, sehingga pemimpin dapat dijadikan sebagai panutan dan tempat berlindung bagi masyarakatnya. Hakekat Dharma Agama adalah memberikan kekuatan pengetahuan spiritual bagi pelasksanaan Dharma Negara. Teguh dalam melaksanakan Dharma Agama akan mendorong untuk melaksanakan Dharma Negara yang baik dan benar. Demikian pula sebaliknya dengan melakukan Dharma Negara yang baik dan benar akan semakin menguatkan spiritual atau Dharma Agama. Oleh karena itu Dharma Negara dan Dharma Agama harus dilaksanakan secara seimbang.

Sadwarnaning Rajaniti


      Menurut teori Hindu Kuno yang dimuat dalam “Substance of Hindu Polity” yang disusun oleh Candra Prakash Bhambari menyebutkan enam (sad) syarat seorang pemimpin, yang diberi istilah Sadwarnaning Rajaniti. Adapun bagian-bagiannya meliputi :

1. Abhigamika : pemimpin harus mampu menarik perhatian positif dari rakyatnya.

2. Prajna : pemimpin harus bijaksana.

3. Utsaha : pemimpin harus kreatif mengembangkan usaha.

4. Atmasampad : pemimpin harus bermoral luhur.

5. Sakhyasamanta : pemimpin harus mampu mengontrol bawahannya.

6. Aksudraparisakta : pemimpin harus mampu memimpin rapat atau sidang dan dapat menarik kesimpulan secara bijaksana.

Tri Rna


      Tri Rna berasal dari kata tri dan rna. Tri berarti tiga, rna berarti hutang. Jadi secara etimologi Tri Rna berarti tiga hutang. Tri rna juga berarti tiga jenis ketergantungan dalam hidup manusia yang membawa ikatan hutang (rna). Ketiga hutang (tri rna) tersebut meliputi :

1.       Dewa rna

Dewa rna merupakan ketergantungan manusia kepada Tuhan  yang telah menciptakan kehidupan, memelihara dan memberikan kebutuhan hidup.

2.       Pitra rna

Pitra rna merupakan ketergantungan kepada leluhur yang telah melahirkan, mengasuh dan membesarkan diri kita.

3.       Rsi rna

Rsi rna merupakan ikatan hutang kepada para Rsi yang telah memberikan pengetahuan suci untuk membebaskan hidup ini dari kebodohan menuju kesejahteraan dan kebahagiaan hidup lahir batin.

Sapta Timira


Sapta Timira berarti tujuh kegelapan, yang dimaksud tujuh kegelapan disini ialah tujuh hal yang menyebabkan pikiran orang menjadi gelap. Adapun ketujuh kegelapan tersebut meliputi :

  1. Surupa berarti kecantikan atau kebagusan wajah. Kecantikan atau ketampanan yang  disalahgunakan akan membuat orang itu sombong. Hal ini yang menyebabkan kehancuran.
  2. Dhana berarti kekayaan atau harta benda yang melimpah. Kekayaan yang digunakan dan didapat bukan melalui jalan dharma menyebabkan orang menjadi angkuh, sombong, menghina orang lain, dan sebagainya.
  3. Guna berarti kepintaran / kepandaian. Jika kepandaian ada pada orang yang bermoral tidak baik seperti teroris, koruptor, penipu, dan sebagainya maka akan menyebabkan kekacauan.
  4. Kulina berarti keturunan atau kebangsawanan. Orang yang berasal dari keturunan keluarga terhormat, seperti bangsawan, putra raja akan dihormati. Jika dengan keturunan ini seseorang menjadi sombong, menghina orang lain, hal ini yang menyebabkan kegelapan.
  5. Yohana berarti masa remaja / muda. Seseorang pada masa muda memiliki pendirian yang labil sehingga mudah terpengaruh ke hal – hal yang negative.
  6. Sura berarti minuman keras (yang memabukan). Minuman keras tentunya harus dihindari, karena minuman ini dapat menyebabkan mabuk. Banyak akibat buruk yang ditimbulkan karena mabuk seperti tindakan criminal, kecelakaan lalu lintas dan lain-lain.
  7. Kasuruan berarti keberanian. Keberanian yang tidak terkontrol akan memnyebabkan kehancuran, seperti setiap orang yang ditemui ditantang untuk bertarung.