Tri Hita Karana


Secara etimologi Tri Hita Karana berasal dari kata tri yang berarti tiga, hita berarti kebahagiaan, kesejahteraan, dan karana berarti penyebab. Jadi Tri Hita Karana berarti tiga penyebab kebahagiaan atau kesejahteraan. Hal ini diwujudkan dalam hubungan yang harmonis antara :

  1. Manusia dengan Tuhan YME (parhyangan)
  2. Manusia dengan manusia (pawongan)
  3. Manusia dengan lingkungan / alam (palemahan)

1. Hubungan harmonis manusia dengan Tuhan YME

Bagaimana kita menjalin hubungan yang harmonis dengan Tuhan? Apakah bisa, ketemu saja tidak? Tuhan memang tidak dapat dilihat tetapi bisa dirasakan. Menjalin hubungan dengan Tuhan, tidak harus bertemu atau melihat beliau. Itu hal yang tidak mungkin bila Tuhan dalam keadaan transenden, apalagi awidya yang menutupi begitu tebal dalam diri kita. Lalu dengan apa menjalin hubungannya? Dengan memahami dan melaksanakan ajarannya. Bila dikaitkan dengan Panca Yajna, dalam hal hubungan dengan Tuhan termasuk Dewa Yajna. Pengorbanan yang tulus ikhlas kepada para dewa, seperti merayakan hari raya saraswati, siwalatri, sembahyang, dan sebagainya.

2. Hubungan harmonis manusia dengan manusia

Manusia hendaknya menjalin hubungan yang harmonis dengan sesama, supaya tercipta hidup yang rukun, tentram dan sejahtera. Dalam ajaran Hindu kita mengenal Tat Tvam Asi, semboyan inilah yang seharusnya dijadikan pondasi untuk menjalin hubungan dengan sesama. Bila menyakiti orang lain, sebenarnya itu sama dengan menyakiti diri-sendiri. Bila semua orang berpikiran demikian, tentunya kedamaian akan tercipta. Bila dikaitkan dengan Panca Yajna hubungan dengan sesama dapat diwujudkan dengan rsi yajna, pitra yajna, dan manusa yajna, seperti memberi punia kepada para Sulinggih, upacara dari bayi hingga pernikahan, menghormati orang yang lebih tua, dan sebagainya.

3. Hubungan harmonis manusia dengan alam lingkungan

Manusia hidup didunia tidak lepas dari keterikatan dengan alam lingkungan. Hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungan tidak akan berhenti ketika manusia itu hidup. Tetapi terkadang sifat rakus manusia membuat alam menderita. Eksploitasi alam secara besar – besaran tanpa memikirkan akibat yang ditimbulkannya. Banyak contoh akibat dari eksploitasi yang tidak bertanggung jawab itu, seperti globalwarming, lumpur lapindo, dan sebagainya. Oleh karena itu jadilah. Oleh karena itu menjalin hubungan harmonis dengan lingkungan hendaknya kita lakukan. Bila dikaitkan dengan Panca Yajna hubungan dengan lingkunagan ini dapat diwujudkan dengan Bhuta Yajna, seperti mecaru, segahan, dan sebagainya.

Ketiga hubungan ini memiliki kesatuan yang utuh dan saling berhubungan. Kita ambil contoh saat melakukan piodalan pura / upacara yajna lainnya. Didalam kegiatan tersebut entah sadar atau tidak kita telah melakukan ketiga hubungan ini. Hubungan dengan Tuhan, sudah jelas yajna itu ditujukan kepada Tuhan. Yang kedua hubungan dengan manusia, saat kita ngayah disitulah terjadi hubungan ini, saling membantu satu sama lain untuk menyelesaikan tugas, berkomunikasi dengan baik dan menumbuhkan rasa kekeluargaan. Dan yang terakhir hubungan dengan lingkungan, sudah jelas didalamnya ada mecaru.

Terimakasih atas attentionnya, semoga tulisan ini bermanfaat. Dan apabila ada kesalahan dalam penulisan, tutur kata dan lainnya penulis mohon maaf…

 

referensi :

- Buku Agama Hindu Untuk Perguruan Tinggi

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s