Dharma Wacana ” Tri Hita Karana “


“ Upaya Umat Hindu Dalam Menjaga Keseimbangan Alam Semesta

Melalui Implementasi Tri Hita Karana ”

Oleh : Eka Sulastri

Om Swastyastu,

Pertama-tama, marilah kita haturkan puja dan puji astuti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas Asungkertha Waranugraha-Nya yang telah melimpahkan segala anugrah kepada kita semua. Sehingga pada hari ini kita dapat berkumpul bersama untuk mengikuti Temu Karya Ilmiah Tingkat Nasional di STAH Tampung Penyang, Palangkaraya.

Umat se-dharma yang berbahagia,

Menjadi bagian dari masyarakat, umat Hindu seyogyanya memiliki andil dalam memecahkan segala permasalahan yang timbul akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Keberadaannya selain memberikan dampak positif (misal: perkembangan komunikasi yang semakin pesat) ternyata hal tersebut juga memberikan dampak negatif yaitu menurunnya kesadaran manusia akan pentingnya menjaga keseimbangan alam sebagai sumber kehidupan. Saat ini, sering kita saksikan kejadian dan perilaku destruktif dalam skala lokal maupun global, seperti; bentrokan antar warga (Balinuraga dan Sumbawa) dan eksploitasi alam yang mempengaruhi stabilitas lingkungan.

Hindu adalah Sanatana Dharma yang mengajarkan umat manusia melalui konsep-konsep yang memiliki nilai universal dan relevan dengan permasalahan saat ini, salah satunya adalah Tri Hita Karana yaitu hubungan manusia dengan Tuhan, antar manusia dan alam lingkungan.  Tri Hita Karana tidak cukup dipelajari secara verbalis tetapi nilai-nilai tersebut harus menginternalisasi di dalam diri, yang diimplementasikan dalam perilaku sehari-hari. Dalam penerapannya, disesuaikan dengan kearifan lokal yang menjadi ciri khas masing-masing daerah, misalnya; penerapan Tri Hita Karana oleh umat Hindu etnis Bali berbeda dengan umat Hindu etnis Kaharingan maupun umat Hindu etnis Jawa. Berkaitan dengan hal tersebut, pada kesempatan hari ini saya akan menyampaikan pesan dharma yaitu: “Upaya Umat Hindu Dalam Menjaga Keseimbangan Alam Semesta Melalui Implementasi Tri Hita Karana”. Adapun yang akan saya sampaikan adalah:

  1. Apa yang dimaksud dengan konsep Tri Hita Karana?
  2. Bagaimana menerapkan konsep Tri Hita Karana dalam kehidupan sehari-hari?

Umat se-dharma yang penuh karunia,

1.      Apa yang dimaksud dengan konsep Tri Hita Karana?

Eksistensi Tri Hita Karana sesungguhnya telah ada sejak jaman pemerintahan Majapahit dan digunakan oleh Patih Gajahmada sebagai salah satu rahasia sukses dalam mempersatukan nusantara, yang dikenal dengan Tri Hita Wacana. Kemudian, pada tanggal 11 November 1966, muncullah istilah Tri Hita Karana melalui Konferensi daerah I Badan Perjuangan Umat Hindu Bali (Perguruan Dwijendra). Konferensi ini diadakan atas dasar kesadaran umat Hindu akan dharmanya dalam upaya mewujudkan kesejahteraan yang berdasarkan Pancasila. Tri Hita Karana secara etimologi, berasal dari kata “tri” yang artinya tiga, “hita” adalah kebahagian, dan “karana” artinya sebab. Jadi, Tri Hita Karana adalah tiga unsur penyebab kebahagiaan dalam mewujudkan kehidupan harmonis. Adapun bagiannya meliputi:

  1. Parahyangan: keharmonisan manusia dengan Tuhan
  2. Pawongan: keharmonisan manusia dengan manusia
  3. Palemahan: keharmonisan dengan alam lingkungan

Ketiga sumber tersebut terinspirasi dari Bhagawadgita (III.10), yaitu:

Sahayajnah prajah sristwa,

Pura waca prajahpatih

Anena prasawisya dhiwam,

 Esa wo’stiwista kamadhuk

Artinya:

Pada jaman dahulu Prajapati menciptakan manusia dengan yajna dan bersabda: dengan ini engkau akan berkembang dan menjadi kamadhuk dari keinginanmu.

2.      Bagaimana umat Hindu menerapkan bagian-bagian Tri Hita Karana dalam kehidupan sehari-hari?

a) Parahyangan (manusia dengan Tuhan)

Tuhan merupakan sumber kebahagiaan utama bagi manusia karena kebahagiaan yang sesungguhnya adalah ketika kesadaran sang atman mampu setara dengan Brahman, sehingga muncul konsep parahyangan yang diaktualisasikan dalam bentuk tempat suci sebagai sarana pemujaan kepada Beliau.

Sebagai masyarakat agraris, umat Hindu etnis Jawa mempercayai kemahakuasaan Dewi Sri sebagai Ista Dewata pemberi kemakmuran. Kepercayaan tersebut mereka wujudkan dalam letak tata ruang sebuah rumah yang memuliakan senthong tengah sebagai tempat pemujaan terhadap Dewi Sri.  Selain itu, senthong tengah juga digunakan untuk memuja leluhur yang disimbolkan dalam bentuk dua boneka (loro blonyo) sebagai lambang purusa dan pradana. Eksistensinya sama dengan pemaknaan sanggah, jika di Bali Ista Dewata dan leluhur disthanakan pada pelinggih maka di Jawa Ista Dewata dan leluhur disthanakan di senthong tengah.  Kegiatan spiritual yang dilakukan oleh umat Hindu etnis Jawa dalam memuliakan senthong tengah, dengan melakukan meditasi untuk memperkuat potensi batin mereka.  Sementara itu, umat juga menghaturkan sesaji kepada Ista Dewata dan para leluhur sebagai ungkapan terima kasih atas anugrah yang diberikan.

b) Pawongan (manusia dengan manusia)

Berlandaskan ajaran Hitopadesa Upanisad “vaisudhaiva katumbakam” yang artinya kita semua bersaudara. Kesadaran inilah yang mendorong umat manusia untuk senantiasa mengembangkan kerukunan agar terjalin rasa kekeluargaan antar sesama.

Sebagaimana yang dilakukan oleh umat Hindu di Desa Jatisari Kab. Blitar, mengimplementasikan pawongan melalui kegiatan sarasehan yang dikenal dengan Tradisi Kliwonan (menurut kepercayaan umat Hindu etnis Jawa yang mayoritas penganut Siwaistik, malam kliwon adalah malam melinggihnya Dewa Siwa). Setiap lima hari sekali, umat Hindu (khusus laki-laki) berkumpul di pura untuk melaksanakan persembahyangan bersama serta pembinaan umat terhadap ajaran Agama Hindu oleh pemangku setempat. Tradisi yang sudah dilaksanakan sejak tahun 1994 merupakan salah satu cara umat untuk menjaga keberadaan Hindu di Blitar, karena pada waktu itu banyak upaya yang mencoba menghilangkan identitas ke-Hinduan sehingga melalui tradisi inilah umat berusaha untuk mempertahankannya. Selain itu, Tradisi Kliwonan juga menjadi wahana dalam membina kebersamaan, sehingga menginspirasi kaum perempuan untuk melaksanakan kegiatan yang sama, seperti: kemisan, legian, dan mingguan sebagai sebuah rutinitas guna mempererat rasa kebersamaan.

c) Palemahan (manusia dengan alam)

Alam adalah manifestasi dari badan Tuhan yang secara langsung menopang kehidupan manusia dan mahkluk lainnya. Hubungan manusia dengan alam bersifat kekal abadi, karena mereka selalu hidup di alam semesta ini.

Di dalam Lontar Purana Bali dijelaskan mengenai keharmonisan manusia dengan alam yang disebut dengan Sad Kertih diantaranya ada samudra kertih. Samudra Kertih yaitu upaya menjaga kelestarian dan kesucian samudra sebagai sumber kehidupan manusia. Secara sekala (fisik) upaya pelestarian laut dapat dilakukan, misalnya; tidak mencemari lautan dan membudidayakan terumbu karang. Sedangkan secara niskala (metafisika), seperti Upacara Petik Laut Sumbermanjing, di Kec. Sumbermanjing Wetan Kab. Malang, yang diadakan setiap tanggal 27 September di Pantai Sendang Biru. Upacara ini dilaksanakan secara turun-temurun oleh penduduk di pesisir pantai yang notabenya bermata pencaharian sebagai nelayan. Upacara ini dilaksanakan dengan melarung sesaji sebagai ungkapan terima kasih kepada penguasa lautan (Sang Hyang Baruna) atas hasil yang diberikan selama ini.

Bapak-Ibu umat se-dharma dan rekan-rekan yang berbahagia, dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa keharmonisan sebagai penyebab kebahagiaan dapat terwujud apabila kita dapat berinteraksi dengan ketiga unsur Tri Hita Karana secara seimbang, tentunya berdasarkan pada lingkungan, waktu, dan kondisi (desa, kala, patra). Oleh karena itu, melalui implementasi Tri Hita Karana mari kita bersama-sama menciptakan keseimbangan dan keharmonisan dengan ketiga unsurnya, diawali dari hal yang mudah dan bisa dilakukan.

Demikian yang dapat saya sampaikan pada kesempatan hari ini, semoga apa yang saya sampaikan bisa memberikan manfaat bagi kita semua.

Om Santih, Santih, Santih Om

Dharma Wacana Dana Punia


Oleh : Nico Wardana

Singgih pandita yang dimuliakan

Para pinandhita baik lanang maupun istri yang disucikan

Para sesepuh pini sepuh yang saya hormati

Serta umat sedharma yang berbahagia

Sebelumnya saya sampaikan astungkara panganjali “ Om Swastyastu “

“Om awighnamastu nama sidham,

Om anobadrah kratavo yantu visvatah”

Semoga tiada halangan yang melintang, semoga pikiran yang baik selalu datang dari segala penjuru.

Puji syukur marilah kita panjatkan kehadapan Sang Hyang Widi Wasa, karena atas asungkerta waranugrahanya kita masih diberi kesempatan berkumpul pada malam hari ini dalam keadaan sehat, tanpa kekurangan suatu apapun. Guna mengikuti persembahyangan purnama.

Umat sedharma yang penuh karunia

Sekitar tiga minggu yang lalu, tepatnya tanggal 7 April kita melaksanakan Dharma Santi Nasional yang bertema “Dengan Persaudaraan Kita Bangun Kebersamaan”. lalu yang menjadi pertanyaan apa yang harus kita lakukan untuk mempererat tali persaudaraan sehingga kebersaam itu dapat tercapai. Salah satu ajaran agama Hindu yang mendukung tema tersebut adalah dana punia. Dana berarti pemberian sedangkan punia berarti baik,suci. Sehingga dana punia mempunyai arti pemberian yang baik dan suci.

Bila kita menyadari saat kita memberi jari tangan kita mencakup membentuk satu kesatuan. Jari yang memiliki karakteristik yang berbeda. Hal ini dapat kita artikan bahwa bila kita melakukan dana punia maka dapat mendorong terjadinya persatuan dan kesatuan antar sesama, mempererat tali persaudaraan. Sesuai dengan ajaran kita yang menyatakan bahwa kita semua adalah bersaudara “ vasudaiva kutumbhakam “. Hal ini menjadi penting kita lakukan di zaman sekarang ini ( kaliyuga ), dimana toleransi antar sesama begitu minim, lebih menekankan kepada ego masing-masing. Misalnya saat macet, pada umumnya orang-orang tidak mau mengalah, bahkan trotoarpun yang merupakan jalan untuk pejalan kaki bisa dijadikan jalan, yang penting cepat sampai.

Oleh karena itu pada kesempatan kali ini saya tertarik membawakan dharma wacana dengan judul “Memprioritaskan dana punia guna memperkuat rasa kebersamaan dan persaudaraan”. Adapun yang ingin saya sampaikan, yang pertama mengapa dana punia menjadi prioritas di zaman sekarang ini?. Yang kedua bagaimana berdana punia yang baik dan tepat?.

Umat sedharma yang berbahagia

Mengapa memprioritaskan dana punia menjadi penting kita lakukan di zaman sekarang ini, di dalam Parasaradharmasastra I.23 disebutkan :

“ tapah param kerta yuge

tretayam jnana mucyate

dvapare yajna waewahur

danamekam kalau yuge “

yang berarti :

Pelaksanaan penebusan dosa yang ketat (tapa) merupakan kebajikan pada masa Satyayuga, pengetahuan tentang sang Diri (jnana) pada Tretayuga, pelaksanaan upacara kurban keagamaan (yajna) pada masa Dvaparayuga, dan melaksanakan amal sedekah (danam) pada masa Kaliyuga.

Dari sloka diatas dapat kita simpulkan bahwa untuk sekarang ini kebajikan yang perlu kita lakukan adalah dana punia. Swami wiwekananda membadi dana punia menjadi tiga macam yaitu dharma dana, vidya dana dan artha dana. Pemberian tersebut dapat berupa nasehat/wejangan atau petunjuk hidup, yang mampu mengubah kehidupan seseorang menjadi lebih baik (Dharmadana), contohnya sebagai orang tua mengarahkan anaknya untuk teguh memegang dharma dalam segala tindakannya. berupa pendidikan / pengetahuan (Vidyadana) seperti seorang guru yang memberikan pengetahuan yang dimiliki kepada murid-muridnya dan berupa harta benda (Arthadana) yang bertujuan untuk menolong atau menyelamatkan seseorang atau masyarakat misalnya memberi sedikit uang kepada peminta-minta.

Umat sedharma yang berbahagia

Pemberian merupakan suatu hal yang mulia, mengapa demikian? didalam mahabharata ada seorang pemberi yang agung yaitu radheya putra kunti dan surya. Saat radheya selesai memuja matahari disiang hari datanglah Indra yang menyamar sebagai seorang brahmana, Beliau berkata mohon berikanlah aku sedekah. Radheya menghormati brahmana dengan sujud dikakinya dan mempersilahkan duduk. Brahmana itu meminta kavaca dan kundala. Radheya menawarkan yang lainnya. Singkat cerita radhay tahu bahwa itu indra dan radheya memotong kavacanya dan melepas kundalanya serta meletakan dikaki brahmana (indra) saat itulah bunga-bunga ditaburkan dari langit. Dia dikenal sebagai karna karena telah memberi kundalannya dan vaikartana karena telah memotong kavacanya tanpa rasa sakit. Hal ini memberi makna bahwa pemberian itu merupakan hal yang mulia, terlebih memberikan sesuatu yang sangat kita sayangi, kita butuhkan.

Umat sedharma yang penuh karunia

Lalu bagaimana berdana punia yang baik dan tepat? Bila kita kaitkan dengan tiga guna yang melekat pada manusia, dana punia memiliki tiga kualitas, satvika, rajasika, dan tamasika. Hal ini dipertegas dalam kitab Bhagawadgita XVII.20,21,22, sebagai berikut :

Bhagawadgita XVII.20 dikatakan bahwa dana punia yang bersifat satvika adalah dana punia yang didasari rasa tulus ikhlas, kepada orang yang berhak menerima , dengan cara yang baik, sesuai dengan kemampuan, tidak berlebihan (untuk pamer) dan uang yang diberikan didapat dengan jalan dharma. Contoh : memberikan uang kepada pengemis yang benar – benar membutuhkan dengan tulus ikhlas.

Bhagawadgita XVII.21 menyebutkan juga Rajasika merupakan kualitas kedua dari dana punia. Dana punia yang memiliki sifat rajasika mempunyai ciri-ciri : memberikan dana punia untuk memperoleh keuntungan di kemudian hari / mengharapkan hasilnya, hanya untuk pamer, ada perasaan kesal saat memberikannya. Contoh : memberikan dana punia ke pura paling besar, supaya orang – orang yang lainnya kagum.

Bhagawadgita XVII.22 menyebutkan, kualitas yang ke tiga dari dana punia yaitu kualitas tamasika, yang mempunyai ciri – ciri sebagai berikut : tidak mempunyai landasan sastranya (tanpa keyakinan / tidak mengetahui aturanya / asal – asalan ), uang yang didapat dari perbuatan adharma, tanpa adanya rasa hormat atau dengan penghinaan. Contoh : memberikan sedekah kepada pengemis dengan melemparnya ketanah, dan sangat kecil tidak sebanding dengan penghasilannya.

Dari uraian ini berdana punia yang baik dan tepat adalah yang bersifat satvika, dilakukan dengan tulus ikhlas dan diberikan kepada orang yang tepat. Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa dana punia penting kita galakan dizaman sekarang ini, dimana ego lebih dominan dibanding toleransi. Dana punia tidak harus berwujud materi (arthadana) bisa juga dengan nasehat (dharmadana) dan juga pendidikan (vidyadana). Yang terpenting dilakukan dengan tulus ikhlas sehingga dapat memupuk tali persaudaraan antar sesama dan kebersamaan dapat tercapai.

Oleh karena itu kita sebagai umat hindu yang mempunyai dan mengerti tentang ajaran ini, marilah meningkatkan rasa persaudaraan kita dengan melakukan dana punia. Dengan harapan dapat meningkatkan rasa kebersamaan dan toleransi antar sesama. Demikianlah sedikit pengetahuan yang dapat saya sampaikan, semoga bermanfaat bagi kita semua. Akhir kata saya tutup dengan paramasantih ” Om Santih Santih Santih Om”.

Dharma Wacana : Nyepi


Marquee Text - http://www.marqueetextlive.com

Oleh : Eka Sulastri

Kepada para pandita yang dimuliakan

Kepada para pinandita yang disucikan

Sesepuh dan pinisepuh yang saya hormati

Serta Bapak/Ibu dan seluruh umat sedharma yang berbahagia

Sebelumnya saya menghaturkan sungkem hangayubagya “ om swastyastu”

Puji astuti kita haturkan ke hadapan Ida Hyang Widhi Wasa karena atas asungkertha  waranugrahanya, beliau telah melimpahkan segala anugrah kepada kita semua, sehingga pada hari ini kita dapat berkumpul di Pura Aditya Jaya Rawamangun dalam keadaan sehat tanpa kekurangan suatu apapun.

Umat sedharma yang penuh karunia, sudah menjadi rutinitas bagi kita semua bahwa setiap satu tahun sekali seluruh umat Hindu melaksanakan Nyepi. Ditetapkannya hari raya Nyepi sebagai hari libur nasional telah memberikan motivasi tersendiri bagi umat Hindu, karena sebagai salah satu agama minoritas eksistensinya sudah mulai diakui, seperti  hukum karmapala, pelaksanaan yoga, dan konsep tri hita karana yang merupakan bentuk pengejewantahan dari pustaka  suci Veda. Meskipun demikian masih dalam skala kecil masyarakat komunitas non Hindu yang mengetahui bahwahari raya ini memiliki nilai tidak hanya bagi lingkungan Hindu saja, tetapi memiliki nilai global yang meliputi keberadaan alam semesta ini hal ini patut dikumandangkan kepada seluruh umat manusia sehingga manfaatnya dapat dinikmati secara bersama-sama.

Bapak / ibu umat sedharma yang berbahagia,

Mengenai perayaan Nyepi yang masih relevan dikehidupan sekarang ini, yaitu dijaman kaliyuga, dimana daya tarik materi mendominasi kepribadian setiap manusia. Sungguh memprihatinkan bila hal ini dibiarkan terus terjadi karena dampaknya akan mengalami krisis kepercayaan terhadap  apa yang telah menuntun kita selama ini yaitu ajaran dharma. Berkaitan dengan hal itu, pada kesempatan ini saya tertarik membawakan dharmawacana yang berjudul “ Makna filosofis Pelaksanaan Nyepi”. Adapun rumusan masalah yang akan saya sampaikan:

  1. Bagaimana kita mendefinisikan apa itu Nyepi?
  2. Apa saja yang perlu dilaksanakan dalam pelaksanaan Nyepi?
  3. Seperti apa korelasi pelaksaan Catur Brata Nyepi dengan kondisi saat ini?

Dari masalah tersebut diharapkan kita sebagai umat Hindu dapat mengetahui betapa pentingnya memahami makna dibalik pelakanaan Nyepi, agar kita mendapat manfaat yang sesungguhnya yaitu ketentraman lahir dan batin.

  1. 1.      Bagaimana kita sebagai umat Hindu mendefinisikan apa itu Nyepi?

Diawali dengan sejarah Nyepi, pada tahun 78 M tersebutlah seorang raja bernama Raja Kaniskha dari Dinasti Kusana yang telah berhasil mengakhiri peperangan antar suku di Bharata Warsa yang berjalan selama ratusan tahun. Bergesernya peperangan menjadi pengembangan kebudayaan yang disertai dengan semangat persaudaraan telah mengetuk hati Raja Kaniskha, kemudian pada saat penobatannya, Beliau mendeklarasikan Tahun Saka sebagai awal perdamaian antar suku di India saat itu. Di Indonesia perayaan Tahun Saka tertuang dalam kitab Negara Kertagama yang dikarang oleh Mpu Prapanca pada jaman Majapahit dan di Bali bersumber pada Lontar Sundarigama. Dari sejarahnya, definisi Nyepi secara etimologis berasal dari kata sepi yang artinya sunyi. Kesunyian hati dan pikiran untuk mencapai ketenangan jiwa, ketenangan yang akan membawa atman berinteraksi dengan Brahman. Pelaksanaan ini jatuh pada penaggal apisan sasih kedasa tanggal 1 Waisaka sebagai bentuk penymbutan Tahun Saka dengan berbagai rangkaian upacara.

  1. 2.      Apa saja yang perlu dilakukan dalam pelaksanaan Nyepi

Salah satu makna dari pelaksanaan Nyepi adalah untuk “ mulih jati hening” yang artinya kembali kepada kesadaran agung yakni kesadaran Tuhan. Untuk dapat mencapai kesadaran tersebut, adapun tahapan yang dapat dilakukan :

1)      Melasti, yang dilaksanakan di sumber mata air bertujuan untuk menghanyutkan malaning bumi yaitu segala kotoran yang ada di Bhuana Alit (Tri Kaya Parisudha) maupun di Bhuana Agung (media/simbol kebesaran Tuhan) dan kemudian melakukan angamet sarining bumi dalam wujud Tirtha Amerta.

2)      Tawur kesanga, bertujuan untuk melestarikan semua mahkluk hidup dengan menetralisir kekuatan alam agar dapat bergerak secara seimbang dan harmonis.

3)      Nyepi, dalam pelaksanaannya terdapat empat brata panyepian yang meliputi amati geni (tidak menyalakan api), amati lelanguan (tidak menikmati hiburan), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati karya (tidak bekerja).

4)      Ngembak geni, sebagai wujud bahwa segala bentuk brata dalam panyepian telah berakhir. Umat sedharma memanfaatkan moment ini untuk melakukan simakrama atau upaksama yaitu saling memaafkan satu sama lain.

5)      Dharmasanti, sebagai penutup dari rangakaian Nyepi Dharmasanti merupakan sebuah konsep perdamaian yang tak pernah lepas dari ajaran dharma karena pada akhirnya seluruh kegiatan Nyepi mengharap kehidupana yang damai selamanya.

  1. 3.      Seperti apa korelasi pelaksanaan Catur Brata Nyepi dengan kondisi saat ini?

Perubahan jaman menuntut umat manusia untuk beradaptasi dalam meningkatkan kualitas hidupnya. Catur Brata Nyepi merupakan salah satu cara dalam upaya peningkatan kualitas hidup manusia, terdiri dari:

1)      Amati geni, tidak menyalakan api yang ada di dalam diri yaitu mengendalikan hawa nafsu dan amarah agar pelaksanaan Tri Kaya Parisudha tidak bertentangan dengan dharma.

2)      Amati karya, berhentinya aktivitas manusia akan memberikan dampak positif bagi alam sekitar, karena alam akan merefleksikan diri untuk memperbaiki atmosfer yang telah mengalami kerusakan.

3)      Amati lelungan, pengendalian pikiran merupakan bentuk aplikasi dari pelaksanaan amati lelungan. Dengan menjaga pikiran agar tetap fokus dalam melakukan brata akan mempermudah Sang Atman berkomunikasi dengan Hyang Widhi.

4)      Amati lelanguan, memberi batasan dasendriya dalam menikmati kesenangan duniawi sebagai upaya untuk menuju kelepasan.

Bapak ibu umat sedharma yang saya hormati,

Dari uraian di atas membawa kita pada suatu kesimpulan bahwa makna filosofis dari pelaksanaan Nyepi adalah untuk menyucikan Bhuana Agung dan Bhuana Alit serta mewujudkan keseimbangan dan kesejahteraan lahir batin demi terbinanya kebenaran, kesucian, dan keharmonisan.

Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama memaknai pelaksanaan Nyepi sebagai wujud peningkatan sradha dan bhakti melalui aktualisasi ajaran Tri Hita Karana, salah satunya menyangkut hubungan manusia dengan manusia guna mempererat tali simakrama dalam upaya ikut serta meningkatkan kondisi yang kondusif, damai, dan sejahtera.

Demikian yang dapat saya sampaikan pada kesempatan ini, semoga dapat memberikan manfaat dan pencerahan bagi kita semua.

Sebagai penutup saya haturkan paramashanti:

Om Santih, Santih, Santih, Om
Scroll Text - http://www.marqueetextlive.com