Dharma Wacana Dana Punia


Oleh : Nico Wardana

Singgih pandita yang dimuliakan

Para pinandhita baik lanang maupun istri yang disucikan

Para sesepuh pini sepuh yang saya hormati

Serta umat sedharma yang berbahagia

Sebelumnya saya sampaikan astungkara panganjali “ Om Swastyastu “

“Om awighnamastu nama sidham,

Om anobadrah kratavo yantu visvatah”

Semoga tiada halangan yang melintang, semoga pikiran yang baik selalu datang dari segala penjuru.

Puji syukur marilah kita panjatkan kehadapan Sang Hyang Widi Wasa, karena atas asungkerta waranugrahanya kita masih diberi kesempatan berkumpul pada malam hari ini dalam keadaan sehat, tanpa kekurangan suatu apapun. Guna mengikuti persembahyangan purnama.

Umat sedharma yang penuh karunia

Sekitar tiga minggu yang lalu, tepatnya tanggal 7 April kita melaksanakan Dharma Santi Nasional yang bertema “Dengan Persaudaraan Kita Bangun Kebersamaan”. lalu yang menjadi pertanyaan apa yang harus kita lakukan untuk mempererat tali persaudaraan sehingga kebersaam itu dapat tercapai. Salah satu ajaran agama Hindu yang mendukung tema tersebut adalah dana punia. Dana berarti pemberian sedangkan punia berarti baik,suci. Sehingga dana punia mempunyai arti pemberian yang baik dan suci.

Bila kita menyadari saat kita memberi jari tangan kita mencakup membentuk satu kesatuan. Jari yang memiliki karakteristik yang berbeda. Hal ini dapat kita artikan bahwa bila kita melakukan dana punia maka dapat mendorong terjadinya persatuan dan kesatuan antar sesama, mempererat tali persaudaraan. Sesuai dengan ajaran kita yang menyatakan bahwa kita semua adalah bersaudara “ vasudaiva kutumbhakam “. Hal ini menjadi penting kita lakukan di zaman sekarang ini ( kaliyuga ), dimana toleransi antar sesama begitu minim, lebih menekankan kepada ego masing-masing. Misalnya saat macet, pada umumnya orang-orang tidak mau mengalah, bahkan trotoarpun yang merupakan jalan untuk pejalan kaki bisa dijadikan jalan, yang penting cepat sampai.

Oleh karena itu pada kesempatan kali ini saya tertarik membawakan dharma wacana dengan judul “Memprioritaskan dana punia guna memperkuat rasa kebersamaan dan persaudaraan”. Adapun yang ingin saya sampaikan, yang pertama mengapa dana punia menjadi prioritas di zaman sekarang ini?. Yang kedua bagaimana berdana punia yang baik dan tepat?.

Umat sedharma yang berbahagia

Mengapa memprioritaskan dana punia menjadi penting kita lakukan di zaman sekarang ini, di dalam Parasaradharmasastra I.23 disebutkan :

“ tapah param kerta yuge

tretayam jnana mucyate

dvapare yajna waewahur

danamekam kalau yuge “

yang berarti :

Pelaksanaan penebusan dosa yang ketat (tapa) merupakan kebajikan pada masa Satyayuga, pengetahuan tentang sang Diri (jnana) pada Tretayuga, pelaksanaan upacara kurban keagamaan (yajna) pada masa Dvaparayuga, dan melaksanakan amal sedekah (danam) pada masa Kaliyuga.

Dari sloka diatas dapat kita simpulkan bahwa untuk sekarang ini kebajikan yang perlu kita lakukan adalah dana punia. Swami wiwekananda membadi dana punia menjadi tiga macam yaitu dharma dana, vidya dana dan artha dana. Pemberian tersebut dapat berupa nasehat/wejangan atau petunjuk hidup, yang mampu mengubah kehidupan seseorang menjadi lebih baik (Dharmadana), contohnya sebagai orang tua mengarahkan anaknya untuk teguh memegang dharma dalam segala tindakannya. berupa pendidikan / pengetahuan (Vidyadana) seperti seorang guru yang memberikan pengetahuan yang dimiliki kepada murid-muridnya dan berupa harta benda (Arthadana) yang bertujuan untuk menolong atau menyelamatkan seseorang atau masyarakat misalnya memberi sedikit uang kepada peminta-minta.

Umat sedharma yang berbahagia

Pemberian merupakan suatu hal yang mulia, mengapa demikian? didalam mahabharata ada seorang pemberi yang agung yaitu radheya putra kunti dan surya. Saat radheya selesai memuja matahari disiang hari datanglah Indra yang menyamar sebagai seorang brahmana, Beliau berkata mohon berikanlah aku sedekah. Radheya menghormati brahmana dengan sujud dikakinya dan mempersilahkan duduk. Brahmana itu meminta kavaca dan kundala. Radheya menawarkan yang lainnya. Singkat cerita radhay tahu bahwa itu indra dan radheya memotong kavacanya dan melepas kundalanya serta meletakan dikaki brahmana (indra) saat itulah bunga-bunga ditaburkan dari langit. Dia dikenal sebagai karna karena telah memberi kundalannya dan vaikartana karena telah memotong kavacanya tanpa rasa sakit. Hal ini memberi makna bahwa pemberian itu merupakan hal yang mulia, terlebih memberikan sesuatu yang sangat kita sayangi, kita butuhkan.

Umat sedharma yang penuh karunia

Lalu bagaimana berdana punia yang baik dan tepat? Bila kita kaitkan dengan tiga guna yang melekat pada manusia, dana punia memiliki tiga kualitas, satvika, rajasika, dan tamasika. Hal ini dipertegas dalam kitab Bhagawadgita XVII.20,21,22, sebagai berikut :

Bhagawadgita XVII.20 dikatakan bahwa dana punia yang bersifat satvika adalah dana punia yang didasari rasa tulus ikhlas, kepada orang yang berhak menerima , dengan cara yang baik, sesuai dengan kemampuan, tidak berlebihan (untuk pamer) dan uang yang diberikan didapat dengan jalan dharma. Contoh : memberikan uang kepada pengemis yang benar – benar membutuhkan dengan tulus ikhlas.

Bhagawadgita XVII.21 menyebutkan juga Rajasika merupakan kualitas kedua dari dana punia. Dana punia yang memiliki sifat rajasika mempunyai ciri-ciri : memberikan dana punia untuk memperoleh keuntungan di kemudian hari / mengharapkan hasilnya, hanya untuk pamer, ada perasaan kesal saat memberikannya. Contoh : memberikan dana punia ke pura paling besar, supaya orang – orang yang lainnya kagum.

Bhagawadgita XVII.22 menyebutkan, kualitas yang ke tiga dari dana punia yaitu kualitas tamasika, yang mempunyai ciri – ciri sebagai berikut : tidak mempunyai landasan sastranya (tanpa keyakinan / tidak mengetahui aturanya / asal – asalan ), uang yang didapat dari perbuatan adharma, tanpa adanya rasa hormat atau dengan penghinaan. Contoh : memberikan sedekah kepada pengemis dengan melemparnya ketanah, dan sangat kecil tidak sebanding dengan penghasilannya.

Dari uraian ini berdana punia yang baik dan tepat adalah yang bersifat satvika, dilakukan dengan tulus ikhlas dan diberikan kepada orang yang tepat. Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa dana punia penting kita galakan dizaman sekarang ini, dimana ego lebih dominan dibanding toleransi. Dana punia tidak harus berwujud materi (arthadana) bisa juga dengan nasehat (dharmadana) dan juga pendidikan (vidyadana). Yang terpenting dilakukan dengan tulus ikhlas sehingga dapat memupuk tali persaudaraan antar sesama dan kebersamaan dapat tercapai.

Oleh karena itu kita sebagai umat hindu yang mempunyai dan mengerti tentang ajaran ini, marilah meningkatkan rasa persaudaraan kita dengan melakukan dana punia. Dengan harapan dapat meningkatkan rasa kebersamaan dan toleransi antar sesama. Demikianlah sedikit pengetahuan yang dapat saya sampaikan, semoga bermanfaat bagi kita semua. Akhir kata saya tutup dengan paramasantih ” Om Santih Santih Santih Om”.