Adi Parwa – Part IV : Sumpah Membujang


Marquee Text Live - http://www.marqueetextlive.com
Hari – hari bahagia Raja tiba – tiba menghilang. Ia tidak bebrbicara sepatah katapun. Devavrata ingin mencari tahu penyebabnya, tetapi hal itu tidak mendatangkan hasil. Akhirnya sang Raja berbicara pada padanya,”  Engkau adalah putra satu-satunya di istana Kuru yang besar ini. Engkau adalah kesatriya yang agung, bila sesuatu terjadi padamu di peperangan maka garis keturunan Kuru akan hancur. Sekarang aku berniat untuk menikah. Itu yang membuat kekacauan pikiran ayah”.

Suatu hari Devavrata pergi jalan-jalan dengan keretanya. Kecerdasannya telah menangkap perkataan ayahnya. Ia bertanya kepada kusirnya, siapa yang telah memikat hati ayahnya. Setelah terdiam beberapa saat si kusir akhirnya menceritakan bahwa,” seorang putri nelayan telah memikat hati ayahnya. Tetapi ayah putri itu meminta anak dari putrinya yang menjadi raja setelah Beliau. Sang raja memikirkan pangeran”. Tanpa memberitahu sang Raja, Devavrata pergi ke hutan untuk menemui nelayan itu. Setelah sampai ia melihat putri nelayan yang telah memikat hati ayahnya sedang mengikat perahunya di tepi sungai Yamuna. Akhirnya ia meminta agar diantarkan menemui ayahnya.

Bertemulah Devavrata dengan ayah  putri nelayan itu. Ayah putri nelayan itu menjelaskan apa yang menjadi permintaannya. Devavrata menjawab,” kalau itu yang kau inginkan, baiklah hal itu akan terjadi, aku akan menarik hakku atas mahkota itu”. Tetapi nelayan itu belum puas, ia berkata,” Tuanku engkau adalah seorang pangeran sejati. Tetapi bagaimana aku yakin bahwa putramu memiliki sifat baik sepertimu? Jaminan apa yang aku punyai bahwa mereka tidak akan meminta hak anak Satyawati?” Devavrata terkejut pada keinginan pria itu, dengan senyuman jijik ia berkata,” Belum puaskah dirimu?, aku akan memuaskan hatimu. Aku tidak akan menikah. Aku bersumpah demi langit dan bumi, atas nama semua orang-orang yang kusayangi, dan hal-hal suci bagiku atas nama guruku Dharma, bahwa aku tidak akan menikah selama aku hidup”.

Bunga-bunga ditaburkan dari surga. Kata “BHISMA” di ucapkan dari keempat penjuru arah. Nelayan itu menyerahkan putrinya dan dibawa ke Hastinapura oleh Devavrata. Sesampainya di istana Devavrata langsung menemui ayahnya dan menyerahkan putri nelayan itu. Ayahnya mengetahui apa yang telah dilakukan oleh Devavrata. Dia sangat terpukul dan sedih mendengar hal itu. Dengan rasa terima kasih dan cintanya kepada putranya ia menganugrahkan sebuah anugrah. Kematian harus menunggunya dan ia akan mati saat ia menginginkannya. Semua tapa yang dilakukan raja digunakan untuk member anugrah itu.

Pernikahan Santanu dan Satyawati akhirnya terlaksana. Dua putra terlahir untuk mereka Citrangada dan Vicitravirya. Waktu berlalu begitu cepat, raja sekarang telah tua dan akhirnya meninggal. Kenyataannya sekarang Devavrata atau lebih dikenal Bhisma harus menanggung beban kerajaan, adiknya masih terlalu muda, ia menobatkan Citrangada menjadi Yuvaraja dan Bhisma bertindak sebagai wakilnya. Tetapi sebuah tragedy terjadi seorang raja Gandharva yang bernama Citrangada tidak terima ada manusia yang menyamai namanya, ia menantang Pangeran Citrangada untuk bertarung dan membuktikan ia layak menyandang nama tersebut. Tetapi putra Satyawati itu terbunuh. Bhisma sangat terpukul dan sedih. Ia mengangkat Vicitravirya untuk menggantikan kakaknya, dan lagi perwakilan jatuh ke pundak Bhisma. Bhisma memerintah kerajaan atas nama adiknya. Rakyat bahagia dibawah kepemimpinannya, raja yang tidak bermahkota, Bhisma.

Bersambung… Adi Parwa Part V : Sayembara di Kerajaan Kasi

Baca sebelumnya… Adi Parwa Part III : Putri Nelayan

Sumber :

– Subramaniam, Kamala.2003.Mahabharata.Paramita.Surabaya
Scroll Text - http://www.marqueetextlive.com

One thought on “Adi Parwa – Part IV : Sumpah Membujang

  1. Ping-balik: Adiparwa-Part V : Sayembara di Kerajaan Kasi « katahindu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s