Dharma Wacana : Nyepi


Marquee Text - http://www.marqueetextlive.com

Oleh : Eka Sulastri

Kepada para pandita yang dimuliakan

Kepada para pinandita yang disucikan

Sesepuh dan pinisepuh yang saya hormati

Serta Bapak/Ibu dan seluruh umat sedharma yang berbahagia

Sebelumnya saya menghaturkan sungkem hangayubagya “ om swastyastu”

Puji astuti kita haturkan ke hadapan Ida Hyang Widhi Wasa karena atas asungkertha  waranugrahanya, beliau telah melimpahkan segala anugrah kepada kita semua, sehingga pada hari ini kita dapat berkumpul di Pura Aditya Jaya Rawamangun dalam keadaan sehat tanpa kekurangan suatu apapun.

Umat sedharma yang penuh karunia, sudah menjadi rutinitas bagi kita semua bahwa setiap satu tahun sekali seluruh umat Hindu melaksanakan Nyepi. Ditetapkannya hari raya Nyepi sebagai hari libur nasional telah memberikan motivasi tersendiri bagi umat Hindu, karena sebagai salah satu agama minoritas eksistensinya sudah mulai diakui, seperti  hukum karmapala, pelaksanaan yoga, dan konsep tri hita karana yang merupakan bentuk pengejewantahan dari pustaka  suci Veda. Meskipun demikian masih dalam skala kecil masyarakat komunitas non Hindu yang mengetahui bahwahari raya ini memiliki nilai tidak hanya bagi lingkungan Hindu saja, tetapi memiliki nilai global yang meliputi keberadaan alam semesta ini hal ini patut dikumandangkan kepada seluruh umat manusia sehingga manfaatnya dapat dinikmati secara bersama-sama.

Bapak / ibu umat sedharma yang berbahagia,

Mengenai perayaan Nyepi yang masih relevan dikehidupan sekarang ini, yaitu dijaman kaliyuga, dimana daya tarik materi mendominasi kepribadian setiap manusia. Sungguh memprihatinkan bila hal ini dibiarkan terus terjadi karena dampaknya akan mengalami krisis kepercayaan terhadap  apa yang telah menuntun kita selama ini yaitu ajaran dharma. Berkaitan dengan hal itu, pada kesempatan ini saya tertarik membawakan dharmawacana yang berjudul “ Makna filosofis Pelaksanaan Nyepi”. Adapun rumusan masalah yang akan saya sampaikan:

  1. Bagaimana kita mendefinisikan apa itu Nyepi?
  2. Apa saja yang perlu dilaksanakan dalam pelaksanaan Nyepi?
  3. Seperti apa korelasi pelaksaan Catur Brata Nyepi dengan kondisi saat ini?

Dari masalah tersebut diharapkan kita sebagai umat Hindu dapat mengetahui betapa pentingnya memahami makna dibalik pelakanaan Nyepi, agar kita mendapat manfaat yang sesungguhnya yaitu ketentraman lahir dan batin.

  1. 1.      Bagaimana kita sebagai umat Hindu mendefinisikan apa itu Nyepi?

Diawali dengan sejarah Nyepi, pada tahun 78 M tersebutlah seorang raja bernama Raja Kaniskha dari Dinasti Kusana yang telah berhasil mengakhiri peperangan antar suku di Bharata Warsa yang berjalan selama ratusan tahun. Bergesernya peperangan menjadi pengembangan kebudayaan yang disertai dengan semangat persaudaraan telah mengetuk hati Raja Kaniskha, kemudian pada saat penobatannya, Beliau mendeklarasikan Tahun Saka sebagai awal perdamaian antar suku di India saat itu. Di Indonesia perayaan Tahun Saka tertuang dalam kitab Negara Kertagama yang dikarang oleh Mpu Prapanca pada jaman Majapahit dan di Bali bersumber pada Lontar Sundarigama. Dari sejarahnya, definisi Nyepi secara etimologis berasal dari kata sepi yang artinya sunyi. Kesunyian hati dan pikiran untuk mencapai ketenangan jiwa, ketenangan yang akan membawa atman berinteraksi dengan Brahman. Pelaksanaan ini jatuh pada penaggal apisan sasih kedasa tanggal 1 Waisaka sebagai bentuk penymbutan Tahun Saka dengan berbagai rangkaian upacara.

  1. 2.      Apa saja yang perlu dilakukan dalam pelaksanaan Nyepi

Salah satu makna dari pelaksanaan Nyepi adalah untuk “ mulih jati hening” yang artinya kembali kepada kesadaran agung yakni kesadaran Tuhan. Untuk dapat mencapai kesadaran tersebut, adapun tahapan yang dapat dilakukan :

1)      Melasti, yang dilaksanakan di sumber mata air bertujuan untuk menghanyutkan malaning bumi yaitu segala kotoran yang ada di Bhuana Alit (Tri Kaya Parisudha) maupun di Bhuana Agung (media/simbol kebesaran Tuhan) dan kemudian melakukan angamet sarining bumi dalam wujud Tirtha Amerta.

2)      Tawur kesanga, bertujuan untuk melestarikan semua mahkluk hidup dengan menetralisir kekuatan alam agar dapat bergerak secara seimbang dan harmonis.

3)      Nyepi, dalam pelaksanaannya terdapat empat brata panyepian yang meliputi amati geni (tidak menyalakan api), amati lelanguan (tidak menikmati hiburan), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati karya (tidak bekerja).

4)      Ngembak geni, sebagai wujud bahwa segala bentuk brata dalam panyepian telah berakhir. Umat sedharma memanfaatkan moment ini untuk melakukan simakrama atau upaksama yaitu saling memaafkan satu sama lain.

5)      Dharmasanti, sebagai penutup dari rangakaian Nyepi Dharmasanti merupakan sebuah konsep perdamaian yang tak pernah lepas dari ajaran dharma karena pada akhirnya seluruh kegiatan Nyepi mengharap kehidupana yang damai selamanya.

  1. 3.      Seperti apa korelasi pelaksanaan Catur Brata Nyepi dengan kondisi saat ini?

Perubahan jaman menuntut umat manusia untuk beradaptasi dalam meningkatkan kualitas hidupnya. Catur Brata Nyepi merupakan salah satu cara dalam upaya peningkatan kualitas hidup manusia, terdiri dari:

1)      Amati geni, tidak menyalakan api yang ada di dalam diri yaitu mengendalikan hawa nafsu dan amarah agar pelaksanaan Tri Kaya Parisudha tidak bertentangan dengan dharma.

2)      Amati karya, berhentinya aktivitas manusia akan memberikan dampak positif bagi alam sekitar, karena alam akan merefleksikan diri untuk memperbaiki atmosfer yang telah mengalami kerusakan.

3)      Amati lelungan, pengendalian pikiran merupakan bentuk aplikasi dari pelaksanaan amati lelungan. Dengan menjaga pikiran agar tetap fokus dalam melakukan brata akan mempermudah Sang Atman berkomunikasi dengan Hyang Widhi.

4)      Amati lelanguan, memberi batasan dasendriya dalam menikmati kesenangan duniawi sebagai upaya untuk menuju kelepasan.

Bapak ibu umat sedharma yang saya hormati,

Dari uraian di atas membawa kita pada suatu kesimpulan bahwa makna filosofis dari pelaksanaan Nyepi adalah untuk menyucikan Bhuana Agung dan Bhuana Alit serta mewujudkan keseimbangan dan kesejahteraan lahir batin demi terbinanya kebenaran, kesucian, dan keharmonisan.

Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama memaknai pelaksanaan Nyepi sebagai wujud peningkatan sradha dan bhakti melalui aktualisasi ajaran Tri Hita Karana, salah satunya menyangkut hubungan manusia dengan manusia guna mempererat tali simakrama dalam upaya ikut serta meningkatkan kondisi yang kondusif, damai, dan sejahtera.

Demikian yang dapat saya sampaikan pada kesempatan ini, semoga dapat memberikan manfaat dan pencerahan bagi kita semua.

Sebagai penutup saya haturkan paramashanti:

Om Santih, Santih, Santih, Om
Scroll Text - http://www.marqueetextlive.com

3 thoughts on “Dharma Wacana : Nyepi

  1. OSA, ditunggu darmawacana lainnya mengenai nyepi, klo bisa cantumkan sloka dalam weda untuk memperkuat makna dan keyakinan. suksma, OSSSO

  2. Om Swastyastu
    saya sangat berterima kasih atas pencerahan yang telah diberikan, semoga Sang Hyang Widhi melimpahkan anugrahnya kepada kita semua.
    kami tunggu pencerahan / dharma wacana lainnya dan saya sarankan sedikit diberi lanadasan sastra suci yang berupa Sloka
    suksma
    Om ano badrah Karatavo yantu Visvatah
    Om santih santih santih Om
    I Nyoman Subawa Dharma Yusa
    Gunungsari Indah M-30 Kedurus Karangpilang Surabaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s