Dharma Wacana ” Tri Hita Karana “


“ Upaya Umat Hindu Dalam Menjaga Keseimbangan Alam Semesta

Melalui Implementasi Tri Hita Karana ”

Oleh : Eka Sulastri

Om Swastyastu,

Pertama-tama, marilah kita haturkan puja dan puji astuti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas Asungkertha Waranugraha-Nya yang telah melimpahkan segala anugrah kepada kita semua. Sehingga pada hari ini kita dapat berkumpul bersama untuk mengikuti Temu Karya Ilmiah Tingkat Nasional di STAH Tampung Penyang, Palangkaraya.

Umat se-dharma yang berbahagia,

Menjadi bagian dari masyarakat, umat Hindu seyogyanya memiliki andil dalam memecahkan segala permasalahan yang timbul akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Keberadaannya selain memberikan dampak positif (misal: perkembangan komunikasi yang semakin pesat) ternyata hal tersebut juga memberikan dampak negatif yaitu menurunnya kesadaran manusia akan pentingnya menjaga keseimbangan alam sebagai sumber kehidupan. Saat ini, sering kita saksikan kejadian dan perilaku destruktif dalam skala lokal maupun global, seperti; bentrokan antar warga (Balinuraga dan Sumbawa) dan eksploitasi alam yang mempengaruhi stabilitas lingkungan.

Hindu adalah Sanatana Dharma yang mengajarkan umat manusia melalui konsep-konsep yang memiliki nilai universal dan relevan dengan permasalahan saat ini, salah satunya adalah Tri Hita Karana yaitu hubungan manusia dengan Tuhan, antar manusia dan alam lingkungan.  Tri Hita Karana tidak cukup dipelajari secara verbalis tetapi nilai-nilai tersebut harus menginternalisasi di dalam diri, yang diimplementasikan dalam perilaku sehari-hari. Dalam penerapannya, disesuaikan dengan kearifan lokal yang menjadi ciri khas masing-masing daerah, misalnya; penerapan Tri Hita Karana oleh umat Hindu etnis Bali berbeda dengan umat Hindu etnis Kaharingan maupun umat Hindu etnis Jawa. Berkaitan dengan hal tersebut, pada kesempatan hari ini saya akan menyampaikan pesan dharma yaitu: “Upaya Umat Hindu Dalam Menjaga Keseimbangan Alam Semesta Melalui Implementasi Tri Hita Karana”. Adapun yang akan saya sampaikan adalah:

  1. Apa yang dimaksud dengan konsep Tri Hita Karana?
  2. Bagaimana menerapkan konsep Tri Hita Karana dalam kehidupan sehari-hari?

Umat se-dharma yang penuh karunia,

1.      Apa yang dimaksud dengan konsep Tri Hita Karana?

Eksistensi Tri Hita Karana sesungguhnya telah ada sejak jaman pemerintahan Majapahit dan digunakan oleh Patih Gajahmada sebagai salah satu rahasia sukses dalam mempersatukan nusantara, yang dikenal dengan Tri Hita Wacana. Kemudian, pada tanggal 11 November 1966, muncullah istilah Tri Hita Karana melalui Konferensi daerah I Badan Perjuangan Umat Hindu Bali (Perguruan Dwijendra). Konferensi ini diadakan atas dasar kesadaran umat Hindu akan dharmanya dalam upaya mewujudkan kesejahteraan yang berdasarkan Pancasila. Tri Hita Karana secara etimologi, berasal dari kata “tri” yang artinya tiga, “hita” adalah kebahagian, dan “karana” artinya sebab. Jadi, Tri Hita Karana adalah tiga unsur penyebab kebahagiaan dalam mewujudkan kehidupan harmonis. Adapun bagiannya meliputi:

  1. Parahyangan: keharmonisan manusia dengan Tuhan
  2. Pawongan: keharmonisan manusia dengan manusia
  3. Palemahan: keharmonisan dengan alam lingkungan

Ketiga sumber tersebut terinspirasi dari Bhagawadgita (III.10), yaitu:

Sahayajnah prajah sristwa,

Pura waca prajahpatih

Anena prasawisya dhiwam,

 Esa wo’stiwista kamadhuk

Artinya:

Pada jaman dahulu Prajapati menciptakan manusia dengan yajna dan bersabda: dengan ini engkau akan berkembang dan menjadi kamadhuk dari keinginanmu.

2.      Bagaimana umat Hindu menerapkan bagian-bagian Tri Hita Karana dalam kehidupan sehari-hari?

a) Parahyangan (manusia dengan Tuhan)

Tuhan merupakan sumber kebahagiaan utama bagi manusia karena kebahagiaan yang sesungguhnya adalah ketika kesadaran sang atman mampu setara dengan Brahman, sehingga muncul konsep parahyangan yang diaktualisasikan dalam bentuk tempat suci sebagai sarana pemujaan kepada Beliau.

Sebagai masyarakat agraris, umat Hindu etnis Jawa mempercayai kemahakuasaan Dewi Sri sebagai Ista Dewata pemberi kemakmuran. Kepercayaan tersebut mereka wujudkan dalam letak tata ruang sebuah rumah yang memuliakan senthong tengah sebagai tempat pemujaan terhadap Dewi Sri.  Selain itu, senthong tengah juga digunakan untuk memuja leluhur yang disimbolkan dalam bentuk dua boneka (loro blonyo) sebagai lambang purusa dan pradana. Eksistensinya sama dengan pemaknaan sanggah, jika di Bali Ista Dewata dan leluhur disthanakan pada pelinggih maka di Jawa Ista Dewata dan leluhur disthanakan di senthong tengah.  Kegiatan spiritual yang dilakukan oleh umat Hindu etnis Jawa dalam memuliakan senthong tengah, dengan melakukan meditasi untuk memperkuat potensi batin mereka.  Sementara itu, umat juga menghaturkan sesaji kepada Ista Dewata dan para leluhur sebagai ungkapan terima kasih atas anugrah yang diberikan.

b) Pawongan (manusia dengan manusia)

Berlandaskan ajaran Hitopadesa Upanisad “vaisudhaiva katumbakam” yang artinya kita semua bersaudara. Kesadaran inilah yang mendorong umat manusia untuk senantiasa mengembangkan kerukunan agar terjalin rasa kekeluargaan antar sesama.

Sebagaimana yang dilakukan oleh umat Hindu di Desa Jatisari Kab. Blitar, mengimplementasikan pawongan melalui kegiatan sarasehan yang dikenal dengan Tradisi Kliwonan (menurut kepercayaan umat Hindu etnis Jawa yang mayoritas penganut Siwaistik, malam kliwon adalah malam melinggihnya Dewa Siwa). Setiap lima hari sekali, umat Hindu (khusus laki-laki) berkumpul di pura untuk melaksanakan persembahyangan bersama serta pembinaan umat terhadap ajaran Agama Hindu oleh pemangku setempat. Tradisi yang sudah dilaksanakan sejak tahun 1994 merupakan salah satu cara umat untuk menjaga keberadaan Hindu di Blitar, karena pada waktu itu banyak upaya yang mencoba menghilangkan identitas ke-Hinduan sehingga melalui tradisi inilah umat berusaha untuk mempertahankannya. Selain itu, Tradisi Kliwonan juga menjadi wahana dalam membina kebersamaan, sehingga menginspirasi kaum perempuan untuk melaksanakan kegiatan yang sama, seperti: kemisan, legian, dan mingguan sebagai sebuah rutinitas guna mempererat rasa kebersamaan.

c) Palemahan (manusia dengan alam)

Alam adalah manifestasi dari badan Tuhan yang secara langsung menopang kehidupan manusia dan mahkluk lainnya. Hubungan manusia dengan alam bersifat kekal abadi, karena mereka selalu hidup di alam semesta ini.

Di dalam Lontar Purana Bali dijelaskan mengenai keharmonisan manusia dengan alam yang disebut dengan Sad Kertih diantaranya ada samudra kertih. Samudra Kertih yaitu upaya menjaga kelestarian dan kesucian samudra sebagai sumber kehidupan manusia. Secara sekala (fisik) upaya pelestarian laut dapat dilakukan, misalnya; tidak mencemari lautan dan membudidayakan terumbu karang. Sedangkan secara niskala (metafisika), seperti Upacara Petik Laut Sumbermanjing, di Kec. Sumbermanjing Wetan Kab. Malang, yang diadakan setiap tanggal 27 September di Pantai Sendang Biru. Upacara ini dilaksanakan secara turun-temurun oleh penduduk di pesisir pantai yang notabenya bermata pencaharian sebagai nelayan. Upacara ini dilaksanakan dengan melarung sesaji sebagai ungkapan terima kasih kepada penguasa lautan (Sang Hyang Baruna) atas hasil yang diberikan selama ini.

Bapak-Ibu umat se-dharma dan rekan-rekan yang berbahagia, dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa keharmonisan sebagai penyebab kebahagiaan dapat terwujud apabila kita dapat berinteraksi dengan ketiga unsur Tri Hita Karana secara seimbang, tentunya berdasarkan pada lingkungan, waktu, dan kondisi (desa, kala, patra). Oleh karena itu, melalui implementasi Tri Hita Karana mari kita bersama-sama menciptakan keseimbangan dan keharmonisan dengan ketiga unsurnya, diawali dari hal yang mudah dan bisa dilakukan.

Demikian yang dapat saya sampaikan pada kesempatan hari ini, semoga apa yang saya sampaikan bisa memberikan manfaat bagi kita semua.

Om Santih, Santih, Santih Om

2 thoughts on “Dharma Wacana ” Tri Hita Karana “

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s